Informasi Detail Berita

PENYULUHAN KEGIATAN PENCEGAHAN PENYAKIT MASYARAKAT (PEKAT) (MINUMAN KERAS DAN NARKOBA)

1st Image

Akhir-akhir ini masalah Penyakit Masyarakat (Pekat) hampir tidak pernah absent dari halaman surat kabar. Menurut berita-berita di surat kabar, sasaran penyakit masyarakat bukan saja anak-anak muda tapi juga orang dewasa dari berbagai lapisan masyaralkat, termasuk pula pegawai negri dan polisi. Penyakit masyarakat merupakan perilaku menyimpang yang terjadi dalam sosial masyarakat. Menurut G. Kartasaputra mendefinisikan bahwa perilaku penyimpangan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, yang tidak sesuai atau tidak menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, baik yang dilakukan secara sadar ataupun tidak. Bentuk-bentuk penyimpangan tersebut, apabila terus berkembang akan menyebabkan timbulnya penyakit sosial dalam masyarakat. Dengan kata lain, penyakit sosial adalah bentuk penyimpangan terhadap norma masyarakat yang dilakukan secara terus-menerus. Sementara itu, bentuk-bentuk penyakit sosial pun bermacam-macam. Beberapa penyakit sosial yang bisa ditemukan di masyarakat salah satunya Narkotika Obat-obatan terlarang (Narkoba) dan Minuman Keras.   Pada awalnya, narkotik digunakan untuk keperluan medis, terutama sebagai bahan campuran obat-obatan dan berbagai penggunaan medis lainnya. Narkotik banyak digunakan dalam keperluan operasi medis, karena narkotik memberikan efek nyaman dan dapat menghilangkan rasa sakit sementara waktu, sehingga pasien dapat dioperasi tanpa merasa sakit. Pada pemakaiannya di bidang medis, dibutuhkan seorang dokter ahli untuk mengetahui kadar yang tepat bagi manusia, karena obat-obatan yang termasuk narkotik memunyai efek ketergantungan bagi para pemakainya.



Penggunaan narkotik secara sembarangan/tanpa memerhatikan dosis penggunaan inilah yang memberikan dampak buruk. Sejak zaman globalisasi, di Indonesia sendiri, sudah banyak orang yang jatuh dalam penyalahgunaan narkoba. Pemakaiannya pun dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dihirup asapnya, dihirup serbuknya, disuntikkan, atau ditelan dalam bentuk pil atau kapsul. Padahal, dengan mengonsumsi narkoba, si pengguna bisa menjadi kecanduan. Jika sudah kecanduan, pemakaian narkoba bisa merusak sistem saraf manusia, bahkan dapat menyebabkan kematian.  



Minuman keras adalah minuman yang memiliki kandungan alkohol lebih dari 5 persen. Keberadaan miras di Indonesia sangat dibatasi oleh aturan pemerintah. Orang-orang yang menyalahgunakan miras akan dikenai sanksi. Adapun yang dimaksud penyalahgunaan di sini adalah suatu bentuk pemakaian yang tidak sesuai dengan ambang batas kesehatan. Artinya, pada dasarnya minuman keras boleh digunakan sejauh hanya untuk maksud pengobatan atau kesehatan di bawah pengawasan dokter atau ahlinya. Di beberapa daerah di Indonesia, terdapat jamu atau minuman tradisional yang dapat digolongkan sebagai minuman keras. Sebenarnya, jika tidak digunakan secara berlebihan, jamu atau minuman tradisional yang dapat digolongkan sebagai minuman keras tersebut, dapat bermanfaat bagi tubuh. Namun, sangat disayangkan jika jamu atau minuman tradisional tersebut, dikonsumsi secara berlebihan atau sengaja digunakan untuk mabuk-mabukan.  



Para pemabuk minuman keras dapat dianggap sebagai penyakit masyarakat. Para pemabuk biasanya sudah kehilangan rasa malunya, tindakannya tidak terkontrol, dan sering kali melakukan hal-hal yang melanggar aturan masyarakat atau aturan hukum. Minuman keras juga berbahaya jika dikonsumsi saat mengemudi, karena dapat merusak konsentrasi sehingga dapat menimbulkan kecelakaan. Pada pemakaian jangka panjang, tidak jarang para pemabuk minuman keras meninggal dunia karena organ lambung atau hatinya rusak akibat efek samping alkohol yang dikonsumsinya.   Berangkat dari latarbelakang tersebut Bagian Hukum dan HAM Setda Kota Surakarta pada Tahun 2013 mengadakan Sosialisasi tentang Penyakit Masyarakat khususnya mengenai Penyalahgunaan Narkoba dan Miras, dengan Tema: Mewujudkan generasi berkualitas dengan hidup tanpa Minuman Keras dan Narkoba, kepada tokoh masyarakat, guru dan pelajar di berbagai tingkatan di Kota Surakarta yang merupakan cara untuk mengurangi dampak buruk Narkoba dan Miras serta guna membangun “habitus baru” di kalangan masyarakat dalam rangka menyikapi bahaya Narkoba dan Miras secara khusus dan Penyakit Masyarakat secara Umum. Kegiatan ini laksanakan pada bulan Oktober 2013 di Hotel Indah Palace.  



Pada Sosialisasi kali ini, Bagian Hukum dan HAM bekerjasama dengan 3 Narasumber yang mempunyai latarbelakang yang berbeda-beda, yakni:



1. Kompol Kristiyono, SH (Polresta Surakarta)



2. dr. Suwarji (DKK Surakarta)



3.Jacky Farel Charles Napitupulu,



SS (Mantan Pengguna Narkoba) yang menyampaikan beberapa paparan dan sharing pengalaman yang sangat menarik serta bermanfaat bagi para peserta.


posting oleh veky, 9053